pren, makasih ya tadi malem dah ditemenin
memang aku jadi gila total selama satu jam
tapi jangan tinggalkan yang gila ini
agar aku sembuh darinya
semua muter2 diatas kepalaku
seakan martil
siap mengoyak otak
pecah.. dan pecah..
pren, makasih ya tadi malem dah ditemenin
Laptopku seakan terbakar
terbakar oleh *.jpg yang semakin aneh itu
lembut tapi panas
panas tapi mengalir seperti air
siap meledakkah?
pren, makasih ya tadi malem dah ditemenin
kalo ada melati mampir ditaman
tolong dikasih bintang lima kayak gini pren *****
tak tunggu ya..
tHe sOuL of Bi@n
8.10.2010
sepotong waktu itu
hangat pasir malam
juga wangi melati
malam pastilah maskulin
melati tentunya feminim
mereka pernah bercinta
jauh di sepotong waktu sana
ya, aku memang menyimpannya
tapi cukup itu saja
karna tak ada waktu
terlambat memelukmu
ya, layarmu sudah terkembang
layarku juga terkembang
berlabuh dalam bahtera
dermaga berbeda
ya, aku mengingatnya
menyimpan butiran pasir itu
sepuasnya.. sepuasnya..
juga wangi melati
malam pastilah maskulin
melati tentunya feminim
mereka pernah bercinta
jauh di sepotong waktu sana
ya, aku memang menyimpannya
tapi cukup itu saja
karna tak ada waktu
terlambat memelukmu
ya, layarmu sudah terkembang
layarku juga terkembang
berlabuh dalam bahtera
dermaga berbeda
ya, aku mengingatnya
menyimpan butiran pasir itu
sepuasnya.. sepuasnya..
5.15.2010
~ Tulang Rusuk ~
Yang terserak
Slalu ku cari
Yang tercecer
Slalu ku nanti
Allah..
Cintaku padaMu
Mengalun lembut
Dalam pencarianku
Cintaku padaMu
Akan kucurah pada selimut duniaku
Akhwat itu..
Yang tercecer
Slalu ku nanti
Allah..
Cintaku padaMu
Mengalun lembut
Dalam pencarianku
Cintaku padaMu
Akan kucurah pada selimut duniaku
Akhwat itu..
8.25.2006
~gAdiS~
Gadis itu..
Akankah berbicara
Dalam hati dalam Allah semata..
Dalam sadar dalam ingin gelora..
Maju kelu toleh leher
Maju kelu kesah lidah
Gadis itu..
Insya Allah tiru
Apa-apa tutur
Apa-apa ilmu
Amien..
Akankah berbicara
Dalam hati dalam Allah semata..
Dalam sadar dalam ingin gelora..
Maju kelu toleh leher
Maju kelu kesah lidah
Gadis itu..
Insya Allah tiru
Apa-apa tutur
Apa-apa ilmu
Amien..
8.10.2006
"Mawar itu, Tak berduri"
Kuda menatap kusir dengan senyum
Begitu aku mengagumimu
Kumbang merangkul bunga
Duri layu gugur karena keramahannya
Begitu mawar menyikapinya
Kini bunga itu indah
Dibawa sang kusir untuk istrinya
"Dinda... ini mawar merah untukmu"
+ "Terimakasih kanda, indah"
"Itu karena kumbang yang ramah, lalu melayukan durinya"
+ "Dimana kanda memetiknya"
"Dibukit taman partere, aku kagum dengan mawar tak berduri itu"
+ "Oh..ya?"
"Iya, aku kagum! Seperti kuda mengagumiku, seperti aku mengagumimu"
Lalu mawar jadi indah
Pendamai dua pasang mata, dua ikat hati
"Istriku... Aku sematkan bunga itu untukmu, rawatlah"
+ "Salah kah bila aku terdiam kanda?"
"Tidak, karena ku tau, diammu adalah sayangmu, adalah tangan yang rawat mawarmu"
+ "Kanda.. Ambillah bunga ini sewaktu-waktu kanda mau, aku akan menunggumu pulang esok hari, atau minggu depan, atau bulan depan atau tahun-tahun depan"
Begitu aku mengagumimu
Kumbang merangkul bunga
Duri layu gugur karena keramahannya
Begitu mawar menyikapinya
Kini bunga itu indah
Dibawa sang kusir untuk istrinya
"Dinda... ini mawar merah untukmu"
+ "Terimakasih kanda, indah"
"Itu karena kumbang yang ramah, lalu melayukan durinya"
+ "Dimana kanda memetiknya"
"Dibukit taman partere, aku kagum dengan mawar tak berduri itu"
+ "Oh..ya?"
"Iya, aku kagum! Seperti kuda mengagumiku, seperti aku mengagumimu"
Lalu mawar jadi indah
Pendamai dua pasang mata, dua ikat hati
"Istriku... Aku sematkan bunga itu untukmu, rawatlah"
+ "Salah kah bila aku terdiam kanda?"
"Tidak, karena ku tau, diammu adalah sayangmu, adalah tangan yang rawat mawarmu"
+ "Kanda.. Ambillah bunga ini sewaktu-waktu kanda mau, aku akan menunggumu pulang esok hari, atau minggu depan, atau bulan depan atau tahun-tahun depan"
"Banggalah Kawan! Banggalah!"
Tubuh kita,
Kasihan dia
Karena congkak kita mereka tercabik-cabik
Mata kita pecah
Karena masih saja memicingi bangkai dunia
Dan kita terlambat membutakannya
Mulut kita robek
Karena masih saja mencibiri indahnya jagad maya
Dan kita terlambat membisukannya
Telinga kita berdarah-darah
Karena masih saja dimanja keelokan iming-iming
Dan kita terlambat menulikannya
Hidung kita bernanah tak karuan
Karena masih saja membau kemandulan sandaran
Dan kita terlambat menyumbatnya
Hati kita berkarat dan sekarat!
Karena masih saja memberati enaknya dilamar duniawi
Dan kita terlambat untuk mempreteli usangnya
Temanku berkata:
“Ah.. Besok saja, umurku kan masih dua dua belum tiga tiga apalagi enam enam”
Dan kuberkata:
“Bukannya umur itu mengejar kita?”
“Alaah, kamu jangan sok tua! Umur kita masih muda! Berdansa-dansa dulu lah..! berarak-arak dululah..! mabuklah sedikit candu dunia..! rugi kamu kawan!” Tampiknya
Dan hatikupun menangis pilu
Dan aku berkata:
“Maukah kau berderita-derita disini dan berindah-indah dikemudian hari!”
“Kaulihat si Mamat yang kau pacari?”
“Sekarang mati! Ditabrak kereta api!”
Temanku diam berpatung
“Kita ditampar teman! Ditampar!!”
“Apa kau ingat umur dia? Masih juga dua dua belum tiga tiga apalagi enam enam!”
Apa kau lihat lukisan Tuhan itu?
Dia melukis bahasa dengan indahnya
Namu hingga kini kau slamur
Sibuk picingi bangkai dunia
"Kau ditampar kawan..! ditampar..!"
Dan kau mulai bergumam lagi:
“Didepan kita ada langkah seribu dan istana-istana megah, dan pangeran –pageran tampan, dan buah-buahan segar, dan daging-daging kenyal!”
dia bergumam tak karuan hingga busa keluar menghiasinya
Akupun menyerah dengan langkah tetap cerah:
“Jalan itu semu kawan, Istana itu penjara merana, pangeran itu anjing gila, buah-buahan itu penyakit malaria dan daging-daging itu adalah kolera!”
Aku bertamu
Mengetuk pintu satu-satu
Namun bila ini,
Tak akan lompati pagar rumahmu
Kasihan dia
Karena congkak kita mereka tercabik-cabik
Mata kita pecah
Karena masih saja memicingi bangkai dunia
Dan kita terlambat membutakannya
Mulut kita robek
Karena masih saja mencibiri indahnya jagad maya
Dan kita terlambat membisukannya
Telinga kita berdarah-darah
Karena masih saja dimanja keelokan iming-iming
Dan kita terlambat menulikannya
Hidung kita bernanah tak karuan
Karena masih saja membau kemandulan sandaran
Dan kita terlambat menyumbatnya
Hati kita berkarat dan sekarat!
Karena masih saja memberati enaknya dilamar duniawi
Dan kita terlambat untuk mempreteli usangnya
Temanku berkata:
“Ah.. Besok saja, umurku kan masih dua dua belum tiga tiga apalagi enam enam”
Dan kuberkata:
“Bukannya umur itu mengejar kita?”
“Alaah, kamu jangan sok tua! Umur kita masih muda! Berdansa-dansa dulu lah..! berarak-arak dululah..! mabuklah sedikit candu dunia..! rugi kamu kawan!” Tampiknya
Dan hatikupun menangis pilu
Dan aku berkata:
“Maukah kau berderita-derita disini dan berindah-indah dikemudian hari!”
“Kaulihat si Mamat yang kau pacari?”
“Sekarang mati! Ditabrak kereta api!”
Temanku diam berpatung
“Kita ditampar teman! Ditampar!!”
“Apa kau ingat umur dia? Masih juga dua dua belum tiga tiga apalagi enam enam!”
Apa kau lihat lukisan Tuhan itu?
Dia melukis bahasa dengan indahnya
Namu hingga kini kau slamur
Sibuk picingi bangkai dunia
"Kau ditampar kawan..! ditampar..!"
Dan kau mulai bergumam lagi:
“Didepan kita ada langkah seribu dan istana-istana megah, dan pangeran –pageran tampan, dan buah-buahan segar, dan daging-daging kenyal!”
dia bergumam tak karuan hingga busa keluar menghiasinya
Akupun menyerah dengan langkah tetap cerah:
“Jalan itu semu kawan, Istana itu penjara merana, pangeran itu anjing gila, buah-buahan itu penyakit malaria dan daging-daging itu adalah kolera!”
Aku bertamu
Mengetuk pintu satu-satu
Namun bila ini,
Tak akan lompati pagar rumahmu
8.09.2006
Dokter.. Tolong Saya..
aku mengeluh ketika luka itu ada
robek menganga tiada ampun
dokter.. tolong saya..
dia bilang:
"ini ada obat, Anti body buat kau"
Thx dok, kataku
"Lekas diminum, ntar keburu lukamu semakin dalam!", kata sang dokter
Kemudian dengan penuh kemantapan kuminum!
Ampuuun.. MUJARAB! MUJARAB!!
Namun, seiring waktu berjalan ternyata:
Anti body itu telah hilang reaksinya
Anti body itu tidak bisa lagi menolong nyeri sakitku
tak bisa lagi.
Tolong Dokter.. tolong saya..
dokter bilang:
"Jangan minum lagi, obat itu akan jadi racun untukmu!"
Saya bertanya "kenapa dok? kenapa berballik menjadi racun!"
dokter bilang "Antibody itu, apabila tak lagi bisa menyembuhkanmu, reaksi-reaksi dari bahan kimianya akan meracunimu!"
dia bilang lagi "Jangan menumpuk2 bahan kimia yang dilepaskanya! bahaya! lekas minum air putih sebanyak2nya!!"
Duh Gusti..
Adakah antibody yang ampuh!
yang ampuh!!!
robek menganga tiada ampun
dokter.. tolong saya..
dia bilang:
"ini ada obat, Anti body buat kau"
Thx dok, kataku
"Lekas diminum, ntar keburu lukamu semakin dalam!", kata sang dokter
Kemudian dengan penuh kemantapan kuminum!
Ampuuun.. MUJARAB! MUJARAB!!
Namun, seiring waktu berjalan ternyata:
Anti body itu telah hilang reaksinya
Anti body itu tidak bisa lagi menolong nyeri sakitku
tak bisa lagi.
Tolong Dokter.. tolong saya..
dokter bilang:
"Jangan minum lagi, obat itu akan jadi racun untukmu!"
Saya bertanya "kenapa dok? kenapa berballik menjadi racun!"
dokter bilang "Antibody itu, apabila tak lagi bisa menyembuhkanmu, reaksi-reaksi dari bahan kimianya akan meracunimu!"
dia bilang lagi "Jangan menumpuk2 bahan kimia yang dilepaskanya! bahaya! lekas minum air putih sebanyak2nya!!"
Duh Gusti..
Adakah antibody yang ampuh!
yang ampuh!!!
7.26.2006
Ya Allah
Ya Allah....
Ampunillah hamba......
(Apabila memang ada petaka, Hentikanlah langkah hamba sampai disini)
Amiin
Ampunillah hamba......
(Apabila memang ada petaka, Hentikanlah langkah hamba sampai disini)
Amiin
7.23.2006
~^.^~
Maukah kau tenggelam dalam damainya dien kita?
Inilah tempat paling sejuk daripada istana tujuh ribu hektar
Daripada kereta besi berplat merah atau hitam dari jepang
Inilah tempat paling indah..
Paling nyaman untuk hati kita...
Inilah tempat paling sejuk daripada istana tujuh ribu hektar
Daripada kereta besi berplat merah atau hitam dari jepang
Inilah tempat paling indah..
Paling nyaman untuk hati kita...
7.11.2006
~Bukannya Kamu~
Bukan kamu yang jahat
Hanya aku yang bodoh
Buka kamu yang melukai
Hanya aku yang hunus pisau sendiri
Bukan kamu yang khianati
Hanya aku yang tidak perasa
Bukan kamu
Hanya aku
Maafkan aku
Anggapmu melekat dijantungku
Hanya aku yang bodoh
Buka kamu yang melukai
Hanya aku yang hunus pisau sendiri
Bukan kamu yang khianati
Hanya aku yang tidak perasa
Bukan kamu
Hanya aku
Maafkan aku
Anggapmu melekat dijantungku
Subscribe to:
Posts (Atom)